Lewat Layar Ponsel, Ibu Hamil KEK di Kuranji Belajar Cegah Stunting
Oleh: Azra Khairunisa Hanifah Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Gizi, FKM Universitas Andalas Dosen Pengampu: Prof. Dr. Helmizar, SKM., M. Biomed
Pagi tanggal 6 Juni 2026, ruang kelas ibu hamil di Puskesmas Kuranji, Kota Padang, tampak sedikit berbeda dari biasanya. Delapan peserta—enam ibu hamil dan dua pendamping—duduk melingkar sambil memegang ponsel masing-masing. Mereka bukan sedang bermain media sosial, melainkan belajar mengenal sebuah aplikasi bernama Helmigrowth, yang didampingkan langsung oleh mahasiswa yang menjalankan program pendampingan gizi kehamilan di puskesmas tersebut.
Kegiatan ini digagas untuk menjawab persoalan yang sebenarnya sudah lama mengintai wilayah Kuranji: kekurangan energi kronis atau KEK pada ibu hamil. Berdasarkan data Puskesmas Kuranji, persentase ibu hamil dengan komplikasi termasuk KEK tercatat mencapai 35,63%, jauh melampaui target program yang hanya 10%, dari total 595 ibu hamil di wilayah kerja puskesmas. Sederhananya, lebih dari satu dari tiga ibu hamil di sana berisiko tidak mendapat cukup energi dan zat gizi untuk dirinya dan janin yang dikandungnya.
KEK bukan perkara sepele. Ibu hamil yang kekurangan energi kronis—biasa ditandai dengan ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) di bawah 23,5 cm—berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan dan melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Kondisi ini pada gilirannya menjadi salah satu pintu masuk utama terjadinya stunting, yakni gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan. Dari enam ibu hamil yang mengikuti kegiatan ini, dua orang di antaranya memang teridentifikasi mengalami KEK berdasarkan pengukuran LiLA, sebuah gambaran kecil dari persoalan besar yang tengah dihadapi wilayah ini.
Sebenarnya, Puskesmas Kuranji sudah memiliki program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi ibu hamil KEK, yang dianggarkan melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Namun data menunjukkan realisasi anggaran PMT lokal khusus bumil KEK baru mencapai sekitar 31,7% dari pagu yang ditetapkan, sementara realisasi PMT pangan lokal secara keseluruhan sekitar 50,6%. Artinya, program yang sudah dirancang dengan baik di atas kertas ini belum sepenuhnya menjangkau seluruh ibu hamil yang membutuhkan.
Di sinilah pendampingan edukasi berbasis aplikasi digital menemukan perannya: sebagai pelengkap, bukan pengganti, program PMT formal puskesmas. Dalam kegiatan yang berlangsung menyatu dengan kelas ibu hamil ini, peserta terlebih dahulu mengerjakan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal mereka tentang gizi kehamilan dan PMT lokal. Setelah itu, mahasiswa memberikan edukasi mengenai gizi kehamilan, pencegahan stunting, dan cara memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai makanan tambahan yang bergizi dan terjangkau. Peserta kemudian didampingi menginstal aplikasi Helmigrowth di ponsel masing-masing, dan sebuah grup WhatsApp dibentuk sebagai kanal komunikasi lanjutan setelah kegiatan usai.
Hasilnya cukup menggembirakan. Rerata skor pengetahuan peserta naik dari 7,00 pada saat pre-test menjadi 8,25 pada post-test. Uji statistik menunjukkan peningkatan ini bermakna secara signifikan, dan yang menarik, seluruh delapan peserta mengalami kenaikan skor tanpa ada satu pun yang menurun. Artinya, dalam satu kali pertemuan saja, pemahaman peserta tentang pentingnya PMT lokal dan pencegahan stunting bergerak nyata ke arah yang lebih baik.
Capaian ini sejalan dengan pengalaman program serupa di daerah lain. Pendampingan ibu hamil KEK melalui Zoom Meeting dan WhatsApp Group yang pernah dijalankan di Kota Semarang juga terbukti mampu memperbaiki pengetahuan dan sikap gizi ibu hamil ke kategori baik. Ini menegaskan bahwa media digital, bila dipadukan dengan edukasi tatap muka, bisa menjadi jembatan yang efektif untuk menyampaikan pesan gizi—apalagi mengingat seluruh peserta kegiatan ini adalah ibu rumah tangga yang mayoritas berpendidikan menengah hingga tinggi dan terbiasa menggunakan smartphone.
Wilayah kerja Puskesmas Kuranji sendiri sebenarnya bukan pemain baru dalam urusan pencegahan stunting. Puskesmas ini sudah memiliki inovasi bernama "Chatting DIA" atau Cegah Stunting Dini pada Anak, yang menyasar remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu balita, hingga pengasuh anak. Kehadiran pendampingan berbasis Helmigrowth menjadi pelengkap yang memperkuat ekosistem edukasi gizi yang sudah dibangun tersebut, khususnya untuk kelompok ibu hamil KEK yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau oleh program PMT formal.
Tentu saja, satu kali pertemuan tidak cukup untuk mengubah kebiasaan makan dan pola asuh yang sudah tertanam bertahun-tahun. Grup WhatsApp yang telah dibentuk perlu terus dimanfaatkan sebagai kanal pengingat dan pemantauan kepatuhan konsumsi PMT lokal, bukan sekadar dibiarkan senyap setelah kegiatan selesai. Puskesmas dan kader kesehatan pun didorong untuk terus mendampingi, sementara ibu hamil dan keluarga diharapkan semakin aktif memanfaatkan aplikasi dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Kisah di Kuranji ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak melulu soal anggaran besar atau kebijakan di tingkat nasional. Kadang, ia dimulai dari hal sesederhana delapan orang duduk melingkar di ruang kelas ibu hamil, belajar membuka sebuah aplikasi di ponsel mereka, demi memastikan anak yang akan lahir kelak tumbuh sehat sejak hari pertama kehidupannya..(**)