BREAKING NEWS

Fathan Bocah "Kementerian" Derita Paripurna, Butuh Uluran Tangan

Oleh : Tim

Di rumah sederhana di Kampuang Jambak, Dusun Padang Lapai, Nagari Guguak, Kecamatan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, seorang bocah kecil menjalani hidup yang bahkan sulit dibayangkan oleh orang dewasa, namanya Muhammad Fathan Abdillah.

Usianya belum genap satu tahun. Namun, penderitaan yang dipikulnya seakan telah melebihi usia hidupnya.

Sejak lahir pada 13 September 2025, Fathan tidak pernah benar-benar menikmati hari-hari sebagai bayi. Ia lahir dengan kelainan bawaan berupa palatoskizis, yaitu langit-langit mulut yang sumbing dan berlubang.

Tangis pertamanya bukan hanya membawa kebahagiaan bagi keluarga, tetapi juga menjadi awal perjalanan panjang yang penuh air mata.

Belum selesai keluarga menerima kenyataan itu, cobaan demi cobaan kembali datang.

Saat usianya baru empat bulan, Fathan mengalami sesak napas hebat. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Andalas di Padang. Hasil pemeriksaan membuat hati keluarga semakin hancur. Dokter menyatakan Fathan menderita tuberkulosis (TB) dan meningitis.

Sejak itu, hidup Fathan berubah total. Ia harus menjalani operasi penutupan langit-langit mulut, pemasangan trakeostomi agar bisa bernapas, serta bergantung pada oksigen untuk membantu kehidupannya setiap hari.

Tubuh mungilnya dipenuhi selang. Tangisnya nyaris tak pernah berhenti. Di sampingnya, sang ibu, Ayu Wandira, tak pernah beranjak jauh. Sebagai orang tua tunggal, ia memilih meninggalkan pekerjaan demi merawat anaknya sepanjang waktu. Tak ada lagi penghasilan tetap.Yang ada hanyalah doa, pinjaman, dan uluran tangan para tetangga yang iba.

Namun ujian belum juga selesai. Pada April 2026, Fathan kembali dilarikan ke rumah sakit. Kali ini dokter menemukan kebocoran pada jantungnya. Pemeriksaan lanjutan juga menunjukkan adanya gangguan pada usus sehingga saluran buang air besarnya harus dialihkan ke bagian perut melalui operasi.

Seolah belum cukup, Fathan kini harus hidup dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya.

Setiap hari ia membutuhkan oksigen, kantong penampung buang air besar, nutrisi khusus, obat-obatan, dan kontrol rutin ke RSUP Dr. M. Djamil Padang. Masih ada serangkaian operasi yang menantinya.

Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan datang dari banyak orang yang tak mengenalnya. Bidan nagari, tenaga kesehatan Puskesmas Kayu Tanam, hingga Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kementerian Sosial, Rina Andrianti, menjadi pihak pertama yang mengabarkan kondisi Fathan kepada banyak orang.

Perlahan, bantuan mulai berdatangan. Dinas Sosial P3A Padang Pariaman, Dinas Kesehatan, Baznas, ASPILA, BPJS PBI JKN Kementerian Sosial, Relawan Donor Darah Sumbar, serta para dermawan dari berbagai daerah ikut meringankan beban keluarga kecil itu.

Karena hampir setiap kali berobat selalu didampingi dan difasilitasi oleh TKSK Kementerian Sosial, para tenaga medis di RSUP Dr. M. Djamil bahkan menjuluki Fathan sebagai "Bocah Kementerian."

Julukan itu bukan karena ia anak pejabat. Bukan pula karena berasal dari keluarga berada. Julukan itu lahir karena perhatian yang begitu besar dari para pendamping sosial yang tak pernah lelah memastikan Fathan mendapatkan pelayanan terbaik.

Kini, bantuan yang pernah mengalir mulai menipis. Sementara kebutuhan Fathan tak pernah berhenti, satu tabung oksigen, satu kantong penampung setiap hari, obat-obatan, susu dan makanan bergizi, biaya transportasi kontrol. Semuanya menjadi perjuangan baru bagi sang ibu yang tak lagi memiliki penghasilan.

Di balik semua itu, ada satu luka yang mungkin paling sulit disembuhkan. Ayah Fathan meninggalkan keluarga bahkan sebelum ia lahir. Hingga kini, Fathan tumbuh tanpa pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ayah.

Mungkin suatu hari nanti, ketika Fathan telah cukup besar untuk memahami hidup, ia akan bertanya mengapa dirinya harus menjalani semua ini. Namun hari ini, ia hanya mampu menangis. Dan tangisan itu seolah berkata kepada dunia: "Aku ingin sembuh. Aku ingin hidup seperti anak-anak lainnya."

Semoga masih banyak tangan-tangan baik yang bersedia menguatkan langkah kecil Fathan.

Karena setiap bantuan yang diberikan bukan sekadar meringankan beban biaya, tetapi juga menjaga harapan agar seorang anak kecil tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, tersenyum, dan meraih masa depan. (**)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar