Memperingati Satu Abad Jam Gadang Bukittinggi, Dari Warisan Sejarah Menjadi Ikon Pariwisata
Dikutip dari laman kemenpar, Rabu (3/6) salah satu agenda utama yang akan digelar adalah seminar internasional yang membahas nilai sejarah dan warisan budaya Jam Gadang. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang diskusi bagi para peneliti, budayawan, dan akademisi untuk mengulas peran Jam Gadang dalam perjalanan sejarah Minangkabau dan Indonesia.
"Peringatan satu abad ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi Jam Gadang sebagai warisan sejarah sekaligus ikon pariwisata yang telah membawa nama Bukittinggi dan Sumatera Barat dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional," ungkapnya.
Menurut kemenpar, selama 100 tahun, Jam Gadang telah berkembang dari sebuah hadiah kolonial menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau. Dengan arsitektur unik, sejarah panjang, serta perannya sebagai pusat aktivitas budaya dan pariwisata, Jam Gadang bukan sekadar menara jam, melainkan representasi identitas Sumatera Barat yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Menurut sejarahnya, Jam Gadang dibangun pada 20 Juni 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Menara ini merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada H.R. Rookmaaker, pejabat kontrolir (controleur) Fort de Kock, nama lama Kota Bukittinggi. "Pembangunan menara tersebut menghabiskan biaya sekitar 3.000 gulden dan dirancang oleh arsitek Minangkabau, Yazid Abidin atau Jazid Rajo Mangkuto, dengan bantuan tenaga ahli lokal,"jelasnya.
Nama “Jam Gadang” berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Jam Besar”. Nama tersebut merujuk pada empat buah jam berukuran besar yang terpasang pada setiap sisi menara. Hingga kini, nama itu telah melekat sebagai identitas Bukittinggi dan Sumatera Barat.
Salah satu keistimewaan Jam Gadang, menurut kemenpar, teknik konstruksinya yang tidak menggunakan semen maupun rangka besi. Bangunan setinggi 26 Meter ini dibangun menggunakan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur sebagai perekat. Metode tradisional tersebut terbukti mampu membuat bangunan tetap kokoh meskipun telah melewati berbagai peristiwa alam dan perubahan zaman.
"Mesin jam yang digunakan didatangkan langsung dari Jerman dan dibuat oleh Bernard Vortmann di kota Recklinghausen. Keunikan lainnya adalah penggunaan angka Romawi "IIII" untuk menunjukkan angka empat, berbeda dari penulisan umum "IV". Hingga kini, ciri khas tersebut masih menjadi daya tarik bagi wisatawan,"imbuhnya.Selama perjalanan sejarahnya, Menurut Kemenpar, Jam Gadang mengalami beberapa perubahan bentuk atap yang mencerminkan dinamika politik pada zamannya.
Pada masa Belanda, atap menara berbentuk kubah dengan gaya Eropa.
Saat pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menyerupai pagoda khas Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, atap kembali diubah menjadi bentuk gonjong Rumah Gadang yang mencerminkan budaya Minangkabau dan tetap dipertahankan hingga saat ini.
"Transformasi tersebut menjadikan Jam Gadang bukan hanya monumen bersejarah, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Sumatera Barat,"ungkapnya.
Selama satu abad berdiri, Kemenpar menilai Jam Gadang menjadi saksi berbagai peristiwa penting. Menara ini menyaksikan masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan Kota Bukittinggi sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan pemerintahan di Sumatera Barat. Bahkan, Bukittinggi pernah menjadi ibu kota darurat Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.
"Karena nilai historisnya yang tinggi, Jam Gadang sering disebut sebagai "penjaga memori" Kota Bukittinggi dan simbol perjalanan panjang masyarakat Minangkabau," ulasnya.
Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Jam Gadang kini bertransformasi menjadi destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lokasinya yang berada di pusat kota, dekat Pasar Ateh dan kawasan perdagangan Bukittinggi, membuatnya mudah diakses wisatawan dari berbagai daerah.
"Bagi banyak wisatawan, berkunjung ke Bukittinggi terasa belum lengkap tanpa berfoto di depan Jam Gadang, Kehadirannya juga sering muncul dalam berbagai suvenir, promosi wisata, kartu pos, hingga materi promosi daerah. Bahkan, bagi banyak orang Indonesia, Jam Gadang menjadi simbol yang langsung mengingatkan pada Sumatera Barat," tulisnya.
Selain menjadi objek wisata sejarah, kawasan Jam Gadang juga menjadi pusat berbagai kegiatan budaya, festival seni Minangkabau, pertunjukan tari tradisional, hingga perayaan tahun baru yang menarik ribuan pengunjung setiap tahun.