BREAKING NEWS

Antisipasi Banjir, Wabup Padang Pariaman Meminta Pengerjaan Pengerukan Bandar di Ulakan Tapakis Dipercepat.


Padang Pariaman, Sumbar - Kawasan Rimbo Karambia diketahui menjadi salah satu titik rawan banjir di Kecamatan Ulakan Tapakis, saat bencana hidrometeorologi yang melanda Padang Pariaman pada November 2025 lalu. Sejumlah lahan pertanian dan permukiman warga di sekitar lokasi sempat terendam akibat saluran air yang tidak lagi mampu menampung debit hujan.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman melalui Dinas PUPR setempat melakukan pengerukan bandar guna mengembalikan kapasitas aliran air sehingga mampu mengurangi risiko banjir pada musim hujan mendatang.

Wakil Bupati Padang Pariaman Rahmat Hidayat meninjau langsung pekerjaan pengerukan bandar buangan di Korong Rimbo Karambia tersebut, Senin (8/6) meminta pelaksanaan pekerjaan dipercepat dan pengerukannya ditambah panjangnya sampai ke muara agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat, terutama dalam mengurangi risiko banjir.

“Kami minta pekerjaan ini dipercepat. Selagi cuaca mendukung, jika diperlukan bisa ditambah tenaga kerja maupun satu unit alat berat lagi agar pengerukan segera selesai sampai ke muara” kata Rahmat.

Selain melindungi lahan pertanian dan permukiman warga, Rahmat berharap normalisasi saluran tersebut juga dapat menjaga keamanan infrastruktur di sekitar lokasi, termasuk jembatan yang melintasi aliran air tersebut.

"Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menilai langkah normalisasi saluran air menjadi salah satu upaya penting dalam mitigasi bencana, khususnya di wilayah yang selama ini berulang kali terdampak banjir akibat pendangkalan," tegasnya.

Di lokasi, Kepala Alat Kelengkapan (Alkal) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Padang Pariaman, Hendra Abdilah, menjelaskan bahwa pengerukan dilakukan karena kondisi sungai atau bandar saluran air di kawasan tersebut telah mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang terus menumpuk.

Akibatnya, aliran air tidak lagi lancar dan kerap meluap saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

“Saluran air sudah dangkal dan menyempit karena penumpukan sedimen tanah. Kondisi ini menyebabkan aliran sering tersumbat dan berpotensi menimbulkan banjir,” ujar Hendra.

Menurut dia, pekerjaan yang sedang berlangsung mencakup pengerukan sepanjang sekitar 700 meter dengan lebar saluran mencapai tujuh meter. "Proses pengerjaannya diperkirakan memakan waktu sekitar tujuh hari, bergantung pada kondisi cuaca di lapangan," pungkasnya.

Editor : Eka

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar