Seorang Pemuda Di Padang Pariaman Yang Sering Ngamuk Akibat Mabuk Pertalite Terpaksa Dikurung dan Dirantai Kakinya.
0 menit baca
Padang Pariaman, Sumbar-
Syahrul Ramadhani, 22 tahun, seorang pemuda yang tinggal di daerah Asam Pulau Nagari Anduring Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman terpaksa dikurung disalah satu kamar rumah orangtuanya.
Dia terpaksa dikurung dan dirantai, karena telah memukul ibu kandungnya, Limarwati alias Upiak hingga tidak sadarkan diri dan mengalami luka pada batang hidungnya.
Menurut Upiak, emosi anaknya tidak stabil semenjak menghirup lem dan minyak pertalite.
"Dia sering mabuk minyak pertalite, dia pulang dari luar udah bau minyak, maka saya marahi, kemudian langsung ditonjoknya, hingga hidung saya berdarah dan tidak sadarkan diri," ujarnya saat ditemui dirumahnya, Selasa (19/5).
Akibat tonjokan itu, Upiak menjelaskan dia sempat dirawat ke IGD rumah sakit.
"Kejadiannya sudah 15 hari yang lalu, saat ini kondisi saya sudah membaik,," pungkas Upiak.
Anaknya itu, kecanduan ngelem sekitar 2 tahun yang lalu, karena lem sudah susah didapatkannya maka beralih ke minyak pertalite. Dari pengakuannya, kecanduan minyak pertalite ini, lebih parah lagi dari ngelem.
"Karena dia mati matian untuk mendapatkan pertalite ini, kadang kadang disuruh orang lain, untuk membelikannya," terangnya.
Akibat kecanduan lem dan pertalite, anaknya tersebut terpaksa dikurung dan dirantai kakinya. Sebelum dikurung, Syahrul ini sudah beberapa kali dibawanya ke rumah sakit dan tempat rehabilitasi. Karena keterbatasan biaya maka terpaksa dibawa pulang lagi.
"Saya pernah bawa Syahrul ke tempat rehabilitasi di Padang, namun kami tidak sanggup membiayainya, tiga juta per bulan. karena biaya rehabilasi itu diluar tanggungjawab BPJS," ungkapnya.
Selain itu, Upiak juga mengakui dinas sosial dan petugas kesehatan dari puskesmas sudah pernah mendatangi rumahnya. "Pada saat itu, ada rencana membantu pemulihan anak saya, mungkin karena bencana ditunda. Tapi sampai saat ini, belum ada yang datang,"ujar Upiak.
Untuk kedepannya, dia berharap ada bantuan dari pemerintah. "Saya ingin anak saya ini pulih, tidak tergantung lagi dengan lem dan minyak pertalite. Untuk itu, saya mohon minta bantuan dari pemerintah, bapak Bupati JKA, bapak Wakil Gubernur uda Vasko," pintanya.
Sementara itu, Babinkantibmas Aipda Ongki Roza, yang ikut mendampingi membenarkan ada kejadian pemukulan tersebut.
"Dia sudah sering mengamuk, terutama ke ibunya. Karena permintaan tidak dapat dipenuhi atau terlambat dikasih, maka dia sering marah ke ibunya," ungkap Ongki.
Untuk pengamanan, maka dia terpaksa dikurung dan dirantai kakinya. "Berdasarkan laporan ibunya, kalau tidak dirantai, dia memanjat dan keluar lewat loteng,"tutupnya.(eka)