Bangkai Ikan Paus Diperkirakan 4 Ton Terdampar di Hutan Mangrove Inhil, Petugas Kesulitan Mengidentifikasinya
0 menit baca
INDRAGIRI HILIR, RIAU — Warga Desa Bente, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, dikejutkan dengan penemuan bangkai mamalia laut yang diduga seekor paus di kawasan perairan Sungai Bahale, Rabu (23/9) malam.
Bangkai hewan laut berukuran besar itu ditemukan tersangkut di antara pepohonan mangrove. Dari pengamatan awal, mamalia laut tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar 8 meter dengan berat mencapai 4 ton. Sebagian tubuh bangkai paus tersebut terbenam di lumpur kawasan mangrove, sementara bagian lainnya masih terlihat di permukaan.
Kapolres Indragiri Hilir AKBP Donny Eko Listianto membenarkan adanya laporan penemuan bangkai mamalia laut tersebut. Laporan diterima pihak kepolisian sekitar pukul 22.40 WIB.
Menurut Donny, identifikasi lebih lanjut belum dapat dilakukan saat malam hari karena kondisi lokasi yang gelap dan medan yang cukup sulit dijangkau.
"Proses identifikasi mendalam belum bisa langsung dilakukan pada malam penemuan karena kendala medan dan penerangan yang sangat minim," kata Donny.
Selain faktor medan, petugas juga mempertimbangkan faktor keselamatan karena kawasan mangrove tersebut merupakan wilayah liar dan cukup jauh dari permukiman. Kawasan Hutan Mangrove Sungai Bahale juga diketahui menjadi habitat sejumlah satwa liar, termasuk buaya muara dan biawak. Keberadaan bangkai mamalia laut tersebut dikhawatirkan dapat menarik perhatian predator di sekitar lokasi.
Kondisi bangkai yang mulai membusuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap juga mengindikasikan bahwa hewan tersebut kemungkinan telah mati beberapa hari sebelum ditemukan.
Polres Inhil selanjutnya berkoordinasi dengan instansi teknis, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan dinas terkait, untuk memastikan jenis spesies serta mengetahui penyebab kematian mamalia laut tersebut.
"Untuk menangani hal ini, Polres Inhil segera berkoordinasi dengan instansi teknis seperti BKSDA dan dinas kelautan setempat guna memastikan jenis spesies serta penyebab pasti kematiannya," ujarnya.
Donny mengatakan, kepolisian saat ini lebih memprioritaskan pengamanan lokasi untuk mencegah masyarakat mendekati bangkai tersebut.
Sementara proses pemeriksaan dan penanganan bangkai akan dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi.
"Hal ini dilakukan demi mengantisipasi penyebaran bakteri atau bahaya kesehatan yang mungkin ditimbulkan dari proses pembusukan," jelasnya.
Polisi juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekati, memotong, maupun mengambil bagian tubuh dari bangkai mamalia laut tersebut.
Masyarakat diminta menunggu proses identifikasi dan penanganan oleh tim terkait serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan kejadian serupa.
Hingga kini, identitas spesies dan penyebab kematian mamalia laut yang ditemukan di kawasan mangrove Sungai Bahale tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan tim ahli. (MCRiau)