Miris Hidup Sebatang Kara Dengan Kondisi Cacat, Warga Padang Pariaman ini Butuh Bantuan
0 menit baca
Padang Pariaman, Sumbar - Sudah 8 tahunan, Kakek Sanusi yang sudah berusia 71 tahun, hidup sebatang kara dirumah tua yang tidak layak huni. Semenjak istrinya meninggal dan anak satu satunya pergi merantau ke Jakarta. Sanusi bertahan di tengah keterbatasan yang ia miliki. Dimana salah satu kakinya cacat, sehingga untuk berjalan harus ditopang dengan tongkat.
Namun entah apa penyebabnya, bantuan BLT dan RTLH tak didapatkan Kakek Sanusi. Sementara persyaratan untuk memdapatkan bantuan itu, sudah melebihi, rumah tidak layak huni, kondisi cacat dan lansia.
8Untuk mengetahui terkait bantuan untuk Kakek Sanusi, Kami temui Walikorong Lubuk Aro, Rinaldi dikantor Walinagari Anduring yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah Kakek Sanusi pada hari yang sama, Kamis (21/5).
"Saya tinggal disini sendiri, sekitar 8 tahunan, semenjak istri saya meninggal dan anak saya pergi merantau," ujar Sanusi saat ditemui wartawan ciginnews.com dirumahnya, dikorong Lubuk Aro Nagari Anduring Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (21/5).
Sementara salah satu kakinya cacat setelah dia sempat terjatuh. "Kaki cacat disebabkan sudah beberapa kali terjatuh," ulasnya.
Untuk berjalan keluar rumah, kakek Sanusi terpaksa menggunakan dua tongkat untuk menumpu kakinya yang lumpuh.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Kakek Sanusi hanya bisa bekerja mengumpulkan buah pinang yang terjatuh dari batang yang ada disekitar rumahnya.
"Pekerjaan seharian saya menggumpulkan buah pinang. Dalam seminggu dapat sekitar dua kilogram," jelas Sanusi.
Dari buah pinang saja, Kakek Sanusi mengaku tidak cukup memenuhi kebutuhannya sehari hari. "Kadang ada yang kasih makanan dan uang," ungkapnya.
Sementara bantuan BLT berupa uang yang diharapkan dari pemerintah, untuk saat ini tidak ada didapatkannya. Namun untuk sembako ada sekali kali, seperti pasca bencana 2025 lalu.
Selain BLT, Kakek Sanusi saat ini, juga butuh tempat tinggal yang layak huni. Karena bangunan yang ditinggali saat ini kondisinya sangat miris.
Kakek Sanusi menempati kamar depan dengan dinding belakang ditutupi seng bekas dan terpal, ukurannya sekitar 2 x 3 meter. Kondisi bangunan tidak terawat, atapnya sudah ada yang bocor.
Babinkantibmas Anduring, Aipda Ongki Roza yang ikut mendampingi kami ke rumah kakek Sanusi mengakui semenjak dia bertugas didaerah tersebut, 8 tahun yang lalu, kondisi rumah kakek Sanusi hampir sama, tidak ada perubahan. "Sudah 8 tahun saya bertugas disini, rumah kakek Sanusi tidak ada perubahan. Mungkin kondisi tubuhnya yang cacat, sehingga tidak bisa berbuat banyak," ujarnya.
Melihat hidup Kakek Sanusi ini, sebatang kara dengan kondisi cacat, maka sesekali Ongki mengaku singgah untuk sekedar memberi bantuan ala kadarnya.
Menurut Rinaldi, Kakek Sanusi dulu katanya sudah pernah mendapatkan BLT, namun BLT itu hanya berlaku setahun, sudah tidak dapat lagi. Selain itu, dia juga pernah menyerahkan bantuan sembako pasca bencana. Sementara untuk PKH lansia, diakuinya kakek Sanusi belum terdaftar. Kedepannya dia berjanji untuk mengusahakannya.
"Untuk PKH lansia belum terdaftar, tapi diusahakan untuk mendaftarkan pada tahun berikutnya. Karena butuh proses, tidak langsung jadi,"ujarnya.